Blog Archive

Sunday, September 24, 2023

Reissue SCF Stereo Chorus Flanger Pedal with 3 Modulation Modes, Analog BBD Circuit and Preamp

 

This Is Where It All Began. This Is Where It All Begins...




The legendary STEREO CHORUS FLANGER was the first TC Electronic product. Ever! Our founder, who is also a musician, was annoyed with the quality of effect pedals available back in the 70s – they were just so noisy. So, being an engineer, he set out to design a pedal that would live up to his expectations and high standards. That was how the SCF was born all the way back in 1976, and the rest is history as they say. But hey! No one said the story was over. On the contrary, we’re adding to that history. In fact, it has come full circle and we’re really entering a new era of the SCF tales. Please meet SCF GOLD – a legendary pedal to be!


 



The Sound of Silence


Once the original SCF was launched and tons of guitarists had embraced it and included it in their rigs, the nickname for this marvelous modulation gem soon became "The Sound of Silence" due to its complete lack of… noise! Well, we’re pleased to say that the reissued SCF GOLD version also remains absolutely true to its predecessor in terms of off-the-charts signal to noise ratio – unwanted noise is simply not an issue! 




Triple Modulation Magic


Chorus. Flanger. Pitch Modulation. Three modes that deliver the magic swirls, wobbling wonders and pure shimmering awesomeness of the SCF that we know and love, staying true – and paying tribute – to the original. The very unit that has taken countless guitarists by surprise and blown away everything they thought they knew about modulation effects in a strum of a chord!  





Get Outta Here (in Two Ways)!



One of the things that (also) put the original SCF on the map was its dual output section. Sure, you could go out in mono, but if you really wanted to create spatial soundscapes that blew the collective mind of the audience, stereo was the only game in town. Today, it still is the way to create madly wide modulation mayhem. Trust us, it’s way more than twice as good! 



GET IT NOW HERE!!

Reissue SCF Stereo Chorus Flanger Pedal













Tuesday, May 9, 2023

Sum 41 to Break Up

 The pop-punk group will embark on a farewell tour and release one more album before disbanding




Ontario pop-punk outfit Sum 41 are breaking up. The band announced the news on social media earlier today (May 8). “Being in Sum 41 since 1996 brought us some of the best moments of our lives,” the group wrote. “We are forever grateful to our fans both old and new, who have supported us in every way.” 


They went on to reveal that “Sum 41 will be disbanding,” but assured fans that they will finish their current tour and will announce worldwide farewell trek in the near future. Sum 41’s upcoming double album, Heaven :x: Hell, will mark their final LP. Find the band’s full statement below.


Sum 41 skyrocketed to fame in 2001 when their punk-rap track “Fat Lip” took over radio airwaves, was repeatedly played on MTV’s Total Request Live and wound up at No. 1 on Billboard’s Alternative Airplay chart. 


The song appeared on the band’s debut album, All Killer No Filler, which produced subsequent radio singles such as “In Too Deep” and “Motivation.” They have released seven studio albums in the ensuing years, the most recent of which was 2019’s Order in Decline.


Guitarist Deryck Whibley, drummer Steve Jocz, bassist Richard Roy, and vocalist Jon Marshall formed Sum 41 in 1996. Whibley is now the band’s lead vocalist and he’s also the only remaining original member, joined in Sum 41 by guitarists Dave Baksh and Tom Thacker, bassist Jason McCaslin, and drummer Frank Zummo.





Being in Sum 41 since 1996 brought us some of the best moments of our lives. We are forever grateful to our fans both old and new, who have supported us in every way. It is hard to articulate the love and respect we have for all of you and we wanted you to hear this from us first.


Sum 41 will be disbanding. We will still be finishing all of our current upcoming tour dates this year, and we’re looking forward to releasing our final album “Heaven :x: Hell,” along with a final worldwide headlining tour to celebrate. Details will be announced as soon as we have them.


For now, we look forward to seeing all of you skumfuks on the road and are excited for what the future will bring to each of us.

Thank you for the last 27 years of Sum 41.


Monday, May 1, 2023

OCCULTUS MYSTICISM demo 1993

 



OCCULTUS MYSTICISM demo 1993

1. The Seventh One

2. In The Name of Sil-Khannas

3. Occultus Mysticism


ALL MUSIC AND LYRICS IN OCCULTUS MYSTICISM DEMO WERE WRITTEN BY BATARA GURU MASIRBI RABKA.


Show LANGSUIR di Muar, Johor (4/6/23) dan Sibu, Sarawak (30/9/23) adalah sempena menyambut ulangtahun ke-30 kelahiran demo Occultus Mysticism yang dirilis pada tahun 1993.



Tanpa demo Occultus Mysticism, tiada siapa yang kenal akan LANGSUIR.


LANGSUIR sendiri ditubuhkan 2 tahun sebelumnya (1991). Ketika itu, founders masih bersekolah.


Batara Guru Masirbi Rabka sendiri belajar di MRSM Muar (1991-92) dan pada ketika di asrama itulah lagu-lagu di dalam Occultus Mysticism dicipta menggunakan gitar kapok.


Beliau sahaja yang tegar mencipta lagu-lagu LANGSUIR tatkala rakan-rakan sekolah semuanya memainkan lagu-lagu rock leleh dari kumpulan rock leleh Mega, Exists, Gersang, UG14, Teja, Terrarosa dan sebagainya.


Lagu-lagu yang dimainkan oleh Batara ketika itu kedengaran asing dan jelek oleh golongan mat rock leleh di MRSM. Dikritik sebagai lagu-lagu takde chord progression, takde struktur, sumbang dan sebagainya. Dengan lain perkataan, hina.


Namun Batara berjaya mempengaruhi beberapa rakan MRSM untuk bersama dengan perjuangan underground. Dan mereka ini telah membantu semasa sesi rehearsal lagu-lagu Occultus Mysticism di studio jamming di Muar. Mereka-mereka ini, walaupun bukan ahli band LANGSUIR tetapi sedikit sebanyak memberi bantuan kepada Batara.


Line up jamming lagu-lagu Occultus Mysticism di MRSM Muar:


Batara Guru Masirbi Rabka - gitar

Arwah Mohd Asid - vokal

Arwah Abang Mustapha - drum

Ganja - bass (nama penuh dah tak ingat)


Arwah Abang Mustapha adalah adik kepada salah seorang anggota band SENSELESS dari Kuching, Sarawak yang kemudiannya Abang Mustapha menjadi drummer band SPUTUM.


Studio jam tersebut merupakan juga studio band Operation Corpse prektis sebab dalam jadual terpampang nama Operation Corpse. Operation Corpse kemudiannya menukar nama kepada Samurai.


Di MRSM juga, Batara telah mempengaruhi seorang budak yang pandai melukis bernama Farid Gilone kepada dunia underground dengan memberi dengar kaset-kaset dan fanzine seperti Zulmat, Satanic Obstetrical, Karakatuar dsbgnya. Akibat terpengaruh, Farid mula melukis imej2 setan dan hantu sesuai dengan suasana underground ketika itu.


Salah satu dari lukisan Farid Gilone telah menjadi cover demo Occultus Mysticism yang terkenal itu yang menunjukkan setan dibalut seperti Mummy yang berdiri di atas simbol Necronomicon. Artwork ini bukan sahaja monumental dari segi penampilannya tetapi juga sangat berseni.


Setelah selesai SPM di MRSM Muar, Batara kembali ke Ipoh dan bersama dengan ahli band yang lain, menyiapkan dan memperkemaskan lagu-lagu dalam demo Occultus Mysticism. Akhirnya sesi rakaman pun dibuat di Universal Studio, Klang pada tahun 1993 di bawah pengawasan Arwah Is (Glottis) dan Ajak Dethkrane (Ultra Hingax Prod) dengan kos RM350. 


Bass dimainkan oleh Arwah Faizal (Bearkey) yang juga merupakan ahli anggota Athotorgh ketika itu.


Ternyata demo tersebut umpama tsunami apabila dirilis. Ia melonjakkan nama Langsuir ke persada muzik underground Malaysia dan masih disebut2 sehingga kini. Bahkan ia berterusan diulang cetak oleh Nebiula Production sehingga kini dan tetap sold out. Yang cetak rompak pun jual habis juga.


Ia juga menyebabkan satu label dari Germany, Nazgul Eyrie Production (RIP) menelefon dari German pada tahun 1994 dan bercakap dengan Batara untuk sign dengan mereka. Somehow, perkara itu tak menjadi. Lagipun Batara ketika itu setengah gila belajar di UTM sedangkan yang lainnya di Ipoh. Jadi, nak komit tu susah.


Punya gila belajar kat UTM sampaikan gig pertama LANGSUIR di Garfunkel Pub, KL 11/9/93 pun Batara tak main sebab pada hari gig itu Batara ada ujian pertengahan. UTM ketika itu dikenali sebagai Universiti Tendang Menendang sebab ramainya pelajar yang kena tendang keluar sebab tak lepas gred. 


(Trivia - Batara juga telah menarik diri dari Langsuir pada tahun 2008 kerana mau fokus pada PhD beliau di Adelaide, Australia - dengan lain perkataan, Batara mendahulukan pelajaran lebih dari band - what a poser! hahaha)


Gig Garfunkel tersebut boleh ditonton di sini https://www.youtube.com/watch?v=Kuw_rws9_wY ya... gig ni hadirin hadirat semua kena duduk atas lantai hahaha...




Gig tersebut, Batara telah diganti oleh Dark-E (Necrotic Chaos/Sil Khannaz).


Mulanya demo tersebut dub sendiri sahaja di rumah dengan harga RM6 menggunakan kaset kosong yang dibeli di kedai. Cover dibuat oleh Azlanthor secara manual tangan sahaja. Inlay sekadar fotostat dengan kertas berwarna.


Kemudiannya ia dicetak oleh East Gothic Production (Kuantan) di Singapura sebanyak 500 keping. Kaset tersebut di'seludup' keluar dari Singapura secara fizikal oleh anggota-anggota LANGSUIR ketika itu. Nasib baik tak kena tahan, kalau kena tahan tak tau berapa RM kena bayar tax haha...


Jumpa di Muar dan Sibu ya dan bersama-sama menyambut kelahiran demo Occultus Mysticism.


Merch 30th Anniversary juga akan dilancarkan tak lama lagi!


Sumber:LANGSUYR OFFICIAL FB

Monday, April 24, 2023

BUKU "65 TAHUN MUZIK ROCK DI MALAYSIA (SIRI 1)"

 

BUKU "65 TAHUN MUZIK ROCK DI MALAYSIA  (SIRI 1)"



👉 Penulis: Prof. Madya Dr Muhamad Takiyuddin (UKM)

👉 Terbitan: Penerbit Universiti Malaya

👉 Disiapkan selama dua tahun setengah menerusi penyelidikan dasar 15,000 sumber arkib dan temu bual dengan 187 aktor dan pemuzik rock dari segenap lapangan.

👉 Harga: RM150.00 (termasuk kos penghantaran, poster infografik eksklusif percuma, sticker percuma dan catatan autograph penulis atas nama pembeli)

👉 Apa kata 30 pembaca dan pembeli terpilih?

1.     Bila memgimbau semula memori persekitaran era tu, lengkap dengan gambarnya, faktanya, nilai dokumentasinya, apa yang saya alami ialah kita tak perasan banyak yang kita tempohi dalam kehidupan seharian dulu tu ialah sejarah masa kini. Di sinilah lebih dua bidang bertaut menjadi satu. Dan buku ini antara hasilnya yang jitu, bukan sekadar batu (Nas Ahmad)

2.     Kerja penuh cinta dan semangat. Terima kasih atas penyelidikan anda . Hasil yang istimewa (Zarul Al Bakri)

3.     Jutaan terima kasih kami pada Dr Takiyuddin hingga dapat menghasilkan buku sejarah untuk kami para pemuzik. "Salute" kami pada Dr dan begitu juga kepada pihak Penerbit Universiti Malaya (Zainal Rampa)

4.     Kepada pemuzik-pemuzik (khususnya negeri Johor) yang ingin tahu cerita sebenar pemuzik Malaysia & rockers Malaysia, anda harus memiliki senashah buku ini (Mohd Hatta Fender)

5.    Anda yang terlibat dalam muzik rock harus berasa bangga apabila bidang anda yang dilihat liar itu dihargai dan dibuat kajian oleh ahli akademik dan diiktiraf penerbitannya oleh Universiti Malaya (Pyanhabib)

6.     Buku ini merupakan sesuatu yang belum pernah ada hingga kini (Rom Mohd Nor)

7.     Akhirnya minat dan kerjaya kami sebagai pemuzik yang melalui berbagai karenah dan sebagainya mendapat pengiktirafan di atas usaha Dr Takiyuddin. Saya dan kawan yang lain sangat berbangga (Harun Santana).



8.     Sebagai Pegawai Penyelidik di Jabatan Agama Islam Pahang, saya telah ditugaskan untuk membuat kajian berkaitan Black Metal untuk dibentangkan dalam Mesyuarat Jawatankuasa Kerja Keselamatan Negeri (JKKN) bagi dijadikan kertas asas kepada fatwa pengharaman. Namun ketika itu, memang sukar mencari rujukan berkaitan sejarah rock di Malaysia. Maka tidak keterlaluan saya katakan, buku Dr. Takiyuddin ini merupakan bacaan berautoriti pertama yang dapat menghamparkan – secara akademik – perkembangan yang berlaku dalam babak muzik rock sejak 65 tahun yang lepas (Ustaz Badli Shah Alauddin)

9.     Buku ini sarat dengan informasi-informasi serta gambar-gambar langka yang menjadi 𝘣𝘳𝘢𝘪𝘯 𝘢𝘯𝘥 𝘦𝘺𝘦 𝘤𝘢𝘯𝘥𝘪𝘦𝘴 untuk para peminat muzik yang membacanya. Ianya turut dilengkapi dengan petikan-petikan temubual daripada watak-watak utama pemain, pengikut dan pemerhati scene muzik pada waktu itu. Ianya memberi visual seperti kita menonton sebuah dokumentari dengan 𝘷𝘰𝘪𝘤𝘦 𝘰𝘷𝘦𝘳 dan petikan 𝘵𝘢𝘭𝘬𝘪𝘯𝘨 𝘩𝘦𝘢𝘥 𝘴𝘩𝘰𝘵𝘴 dari orang yang ditemubual (Deep Ov Filsufatia)

10.  Sekian lama saya menunggu kelahiran sebuah hikayat rock dalam bahasa Melayu sebegini. Tak sangka pula edisi Malaysia akan menghidangkan begitu banyak "menu kejutan". Tak terkata (Omar Bachok).

11.  Sebuah naskah yang mengandungi korpus perkembangan muzik rock tanahair. Judulnya mungkin kelihatan santai, namun naskah ini dihasilkan dengan disiplin penulisan yang tinggi, penggunaan sumber prima hingga tertieri melalui kaedah sejarah lisan, rujukan bahan retrospektif bercetak serta digital, juga tinjauan literatur yang kemas. Naskah ini disampaikan dengan lenggok yang tidak terlalu ‘akademik’, justeru ia boleh dinikmati dengan mudah dan santai (Harith Faruqi Sidek).

12.  A small leap in local publication, a giant leap in rock documentation  (Yusman Akhlaken)

13.  Kepada semua mat-mat rock & pencinta muzik rock, buku ini merupakan naskhah wajib milik. Harga RM150 sangat berbaloi untuk sebuah buku yang lengkap dengan info dan gambar-gambar berkategori rare. Juga bacalah sendiri pengalaman-pengalaman individu yang ditemubual yang terlibat sendiri dalam scene rock tanahair.
(Nazari Ibrahim).

14.  Untuk semua rockers di Tanah Melayu sama ada yang masih rockers atau rockers yang sudah bersara, buku ini wajib dibeli untuk dikenang kembali sejarah pahit manis kegemilangan muzik rock di Malaysia (Sharrul Rizal Hashim)

15.  Terima Kasih Dr Takiyuddin kerana mengembalikan nostalgia zaman remaja.(Amir Hamzah Abdul Shukor)



16.  I often lament the fact that a lot of institutions and even academics have little interest in charting contemporary history, especially when it comes to rock music, as if the people who enjoy and/or make rock music are not worthy of a place in our nation’s history. Salute Dr Takiyuddin (Azmyl Yunor)

17.  Buku yang wajib dimiliki bagi penggemar tegar muzik Malaysia (Amrul Azuar Mokhtar)

18.  Karya yang padu ini boleh menjadi sumber rujukan untuk generasi baru (Fazley Irham)

19.  Buku ini merupakan sejarah yang tidak diajar di sekolah (Khamis Rezan)

20.  Buku ini tidak dapat dinilai dengan duit. Terima kasih tidak terhingga pada anak menantu saya kerana menghadiahkan saya buku ini -  sebuah kenangan silam masa muda (Amran Mat Jazik)

21.  To new generation, this book is masterpiece of rock (Ade Japparena)

22.  Terima Kasih Dr Takiyuddin yang sentiasa mempunyai semangat dan usaha yang gigih bagi merealisasikan naskah yang baik. Membuat kami terbuai dengan kenangan-kenangan yang lalu (Roszalina Razali)

23.  Naskhah yang melengkapkan jiwa seorang rockers (Junaidi Roslee)

24.  Memang tak sabar nak khatam buku ini. Tak makan nasi pun takpe (June Adi Puspa)

25.  Dah lama tak excited nak dapat buku teks! Hahaha (Ned Badarudin)

26. Buku ini datang untuk menghentikan penantian panjang kutu rock yang dah lama menantikan info sebegini. Tahniah saya ucapkan kepada Dr Takiyuddin yang sudi memecahkan tembok sejarah ini buat tatapan umum (Mohamad Shahrul)

27.  Rockers masak atau separuh masak kena beli buku ini (Rashid Hussin)

28.  Firstly, I would like to thanks for your fabulous work on this book. I realize how precious about the rock history in this land but at the same time I feel that is difficult to dig more information on it as the local scholars don't really treat rock history as a page of social history when many of the Asia countries like Indonesia, Taiwan, Japan put a lot of effort to study the rock music and bring them into the university program (Hoong, Ling Beh)

29.  Untuk orang lama, orang baru dan sesiapa sahaja yang meminati, memperjuangkan dan hidup dalam dunia rock, buku ini merungkai segalanya zahir dan batin (Nan Sarang Tyrenest Nan)

30.  Naskhah penulisan bermaklumat dan berdokumentasi yang disulam secara separa ilmiah. Disediakan poster infografik besar. Ada nota pada setiap bab, senarai rajah, jadual dan ilustrasi, dan juga senarai indeks. Penulis yang sungguh teliti dan tekun dalam mengusahakan penerbitan buku ini. Padat maklumatnya (Rusdi Abd Rahman)

(Sebahagian besar kenyataan ini dipetik dari komen atau ulasan akaun media sosial penama masing-masing khususnya Facebook serta komunikasi kepada penulis.  Suntingan hanya melibatkan kejelasan ayat, tatabahasa dan ejaan)

PESAN SEKARANG:
https://shope.ee/LHLUN0lzM?share_channel_code=2

BELI SEKALI: BUKU MUZIK ROCK KAPAK




Sunday, April 16, 2023

Butterfingers Discography

 Butterfingers Discography...


1994 – 2 tracks untitled recording (Demo) 

1. Girl Friday

2. Nicc o'Tynne


1995 – 12 goats, 6 oranges and 2 angels (Demo) 


1. Wet Blanket

2. Ginseng

3. Kindergarten

4. When You're Addicted

5. Mystery

6. My Gum

7. Spoilt


1996 – Butter Couldn't Melt (Demo) 

1. LCD (Liquid Crystal Display)

2. Stolen

3. Fahrenheit

4. Jump 'n' Dive


1996 – Dragon (Demo) 


1996 – 1.2 Milligrams (Butterworld/EMI) 

          Beli CD-R Butterfingers 1.2 MG di Shoppe

1. Naive Sick Chasm

2. Chrome

3. Nicc o'Tynne

4. Me

5. Wet Blanket

6. F*

7. Royal Jelly

8. Ugly

9. In the Calm

10. Sober

11. 10db + Royal Jelly alt. take (hidden track)


1997 – Butter Worth Pushful (Butterworld/EMI) 

        Beli CD Butter Worth Pushful di Shoppe

1. Fire is a Curse?

2. Girl Friday

3. E

4. Stole 

5. Vio-pipe

6. Apple Tree

7. Skew

8. Love

9. Ruin by the Selling Out

10. Delirium

11. Garden City of Lights

12. Still River + Vio-pipe alt. take (hidden track)


1999 – Transcendence (Butterworld/EMI) 



1. The Chemistry (Between Us)

2. Epitome

3. Meltdown

4. Mermaids (Fair-God & Stone Faces)

5. Doomsday Out

6. Faculties of the Mind

7. Floating in a Vacuum

8. Weird

9. RnR (Rock & Radical)

10. Mokhsha

11. Mystery

12. Words vs Wisdom + Noise + In Hale (hidden track)


2000 – Butter Late Than Never (unreleased tracks, live and rarities)(Butterworld/EMI) 


BelI CD Butter Late Than Never+POSCARD di Shoppe

1. To Gather (demo)

2. Stolen (1.2 mg version)

3. e (demo)

4. Silk (live on Time Highway Radio 1996)

5. Hatemaster (demo)

6. Faculties of the Mind (live at The Last War, December 1999)

7. Spoilt (in the end)

8. Wet Blanket (demo)

9. Jump & Dive (demo)

10. Sober (alt. take)

11. Sad Sunday Evenin' Blues (New song)

12. Epitome (instrumental demo)


2001 – Malayneum (Butterworld/EMI) 

1. Malayneum

2. Antidotes

3. Pretty Rain

4. State of Abyssmal

5. Ginseng

6. Am I Phoney?

7. Mating Season

8. Pacific

9. No One Else

10. Suddenly


2003 – The Best is Yet to Come 1994-20XX (Butterworld/EMI) 

Beli CD THE BEST IS YET TO COME di Shoppe

1. Chrome

2. Nico O'Tynne

3. Wet Blanket

4. Fo

5. Fire Is A Curse?

6. Girl Friday

7. e

8. Vio-Pipe

9. Ruin by the Selling Out

10. Garden City of Light

11. The Chemistry (Between Us)

12. Epitome

13. Doomsday Out

14. Floating in a Vacuum

15. Malayneum

16. Mating Season

17. Antidotes





2005 – Selamat Tinggal Dunia (Butterworld/EMI) 

1. Ngilu(Hidup makan tidur mati muzik)

2. Daulat Tuanku

3. Cuai

4. Urusan Seri Paduka Baginda

5. Selamat Tinggal Dunia

6. Kabus Ribut

7. Merpati Sejoli

8. Hanyut

9. Taman Tasik Perdana

10. Tentang Tentang


2008 – Kembali (Butterworld) 

1. Joget Global

2. Bebas

3. Maharani

4. Terus Terang

5. Air Liur di Kuala Lumpur

6. Lengkap Semula

7. Merdeka

8. 1000 Tahun (mahu hidup)

9. Gelombang Cinta

10. Mendaki Menara Condong

11. Mati Hidup Kembali


BONUS:

         Beli Butterfingers Greatest Hits di Shoppe



Saturday, April 8, 2023

Does music really sound better on vinyl?

Most probably, but not for the reasons you are thinking of.


If you go round to your friend the audiophile’s house, and he gets out a vinyl and puts it on his record player, and you hear it coming through his big, 4 foot high speakers, it sounds absolutely amazing. Way better than anything you’re normally hearing.





But why?

  1. The music he just put on is from his precious collection of great albums.
  2. It’s coming through big, 4 foot high speakers, rather than tinny ear buds
  3. His hifi (as they were called) has been carefully balanced for the ideal sound. Your earbuds or, worse, Dr Dres, on which you turned up the bass on your iPhone when you first got it and never worked out how to turn it down again, are not.
  4. He has ideal separation between his speakers, for a perfect stereo image. You’re not even hearing stereo on headphones—you’re hearing binaural.
  5. The album in question was recorded with low compression and played back with high amplification. It has 40dB of dynamic range. You can hear the gentle whisper of needle noise, but it doesn’t bother you. Your Carly Rae Jepsen album was recorded with the limiter set to maximum, and, despite the possibilities of digital (96dB dynamic range or better), has an actual dynamic range of 11dB on a good day, and 4dB on a bad one. (More is better.)
  6. There’s a psychological effect of sitting in his sitting room, listening to carefully curated music.
  7. The album artwork is immense, so the imaginative journey you go on is also much bigger.

In principle, CD or AAC can give a much better quality, but it is not usually reflected in the listening experience. It’s mainly heard on headphones, car speakers, or on boxes with a separation of about 12 inches. The headphones have got built in compensation to make some kinds of music sound better, which makes most kinds of music sound worse. There are only a few truly great albums. Most of them were recorded in the days of vinyl, and wrestling with the problems of vinyl was part of the creative process. In other words, they made the most of the medium.

There’s nothing about vinyl itself which is intrinsically better. It’s just that a huge amount of care went into production, packaging and reproduction of vinyl records. A better medium — CD or low compression audio files — will not be as good if less care has gone into the track as a whole, and the listening presentation.


There are a few people offering to edit the answer to say that vinyl is intrinsically better because sound is analogue.




This represents a misunderstanding. The sound you hear is ‘analogue’ (actually, it isn’t ‘analogue’, it’s just sound). It is transmitted to your speakers by an analogue means, and your speakers turn it from an electrical signal into sounds your ear can hear. This is a non-linear process, which is why some speakers sound better than others. At the other end, it has to be converted from sound into an electrical signal — by way of electromagnetism — through a microphone. It goes through a mixing desk, and various compressors, and, for analogue, magnetic tape, all of which add non-linearity. If it goes onto vinyl, it then goes through a physical process of transmuting electrical signals into grooves, and, on the player, the needle then converts these back into electrical signals. All of these are non-linear processes. Digital is just a different kind of conversion.




If you’ve ever worked with analogue tape, or analogue camera film, or any other analogue recording medium, you will remember just how hard it was to stop the intrinsic discontinuities and artefacts of analogue from destroying the signal. When you put something onto magnetic tape — and almost all analogue recordings after the early days were done this way, even if they ended up on vinyl — you are breaking it down into granular form like digital. The difference is that tape is stochastically granular, whereas digital is a granular matrix. But you’ve still split it into chunks. If the chunks are small enough, then you will not hear the difference.




Friday, March 31, 2023

ALBUM BRUTAL XPDC 1997...MASTERPIECE TERBAIK




 Album Brutal' merupakan album hasil nukilan kumpulan XPDC yang diterbitkan pada 1997 dan menampilkan 10 buah lagu.



Album ini merupakan album paling laris dalam sejarah XPDC sehingga kini. Album ini terjual melebihi 500,000 unit , meraih anugerah 4x Platinum dan tersenarai dalam Top 5 kategori Album Rock Terbaik di Anugerah Industri Muzik 1998.


LINE ALBUM BRUTAL 1997

Mael - vokal

Izo - gitar

Zuar - bass

Amy - drum



SENARAI LAGU:

1. "Tak Nak Jadi Soh Chai"  Loloq/Izo XPDC  

2. "Hentian Ini"  J.S Kevin/J.S Kevin  

3. "Hidup Bersama"  Salamah Basiron/Salamah Basiron  

4. "Tinggalkan Semalam"  J.S Kevin/J.S Kevin  

5. "Aku Tak Kan Bising"  Mael XPDC/Mael XPDC  

6. "Senapang Patah"  J.S Kevin/Peter Chong  

7. "Cempedak Jadi Nangka"  Mael XPDC/Mael XPDC  

8. "Aku Masih Di Sini"  Azam Dungun /Izo XPDC  

9. "Semangat Yang Hilang"  J.S Kevin/Izo XPDC  

10. "Apa Nak Dikata"  J.S Kevin/Izo

Album ini merupakan album paling laris dalam sejarah XPDC sehingga kini. Album ini terjual melebihi 500,000 unit , meraih anugerah 4x Platinum dan tersenarai dalam Top 5 kategori Album Rock Terbaik di Anugerah Industri Muzik 1998.


Dapatkan di sini:

https://shope.ee/99s8W5BFmj





Menurut petikan dari Harian Metro yang diterbitkan pada Oktober 18, 2017 ...

Pemain bass kumpulan XPDC, Zua berharap pemain gitar, Izo memberikan kerjasama bagi membantu menyelesaikan kemelut dihadapi berkaitan kontrak mereka dengan syarikat rakaman Life Records. Zua atau nama sebenarnya Azuar Mat Tasi kini menganggotai XPDC bersama Mael (penyanyi), Amy (dram) dan Jeff (gitar), manakala Izo bersama Ali (penyanyi), Eddie (bass) dan Lola (dram) turut menggunakan nama XPDC. Zua berkata, Life Records membenarkan nama XPDC digunakan kedua-dua pihak dengan syarat semua anggota asal XPDC menandatangani surat yang dikeluarkan. "Izo enggan tandatangan surat pelepasan. Jika dia turunkan tandatangan, barulah mereka akan ikut tandatangan surat pelepasan yang dimaksudkan.

Jika sebaliknya, kedudukan kami tidak ke mana. Kami ada kontrak reunion XPDC membabitkan saya, Izo dan Amy yang ketika ini tergantung," katanya.



Menurutnya, dalam situasi sekarang tiada pihak berani melaburkan modal untuk lagu dan album terbaru mereka. “Apa yang ada hanya secara lisan dan ia bukan jaminan. Kami nak ia dibuat secara hitam putih sebagai bukti kami sudah bebas. "Menerusi cara ini barulah penaja akan datang. Kalau mereka nak pandai-pandai sendiri, susah juga nanti kalau kena saman dengan Life Records," katanya. Menurutnya, banyak agenda mereka untuk XPDC tertangguh hanya kerana perkara ini. "Izo hanya perlu tandatagan dan sekiranya dia dan anggota lain mahu kembali dengan Life Records, ia tidak jadi masalah. Kami juga sudah buat perubahan dari segi logo dengan memperkenalkan identiti masing-masing. Kami adalah XPDC Kita Pengyu," katanya. Sementara itu, Izo atau nama sebenarnya Mohd Zulkifly Nik Hussin berkata, surat dikeluarkan Life Records itu membawa maksud komitmen mereka selama ini sudah ditunaikan. "Ia tanda tanggungjawab kami terhadap Life Records sudah dijalankan dengan baik. Mereka keluarkan surat pelepasan kerana tidak mahu mengikat kami. "Sesiapa yang tandatangan surat itu bermakna dia bersetuju dengan kandungannya termasuk memperakui logo dan nama XPDC adalah hak milik Life Records," katanya. Menurutnya, dia enggan menurunkan tandatangan kerana perlu merujuk dengan anggota lain serta peguam sebelum membuat keputusan. "Saya takut jika saya turunkan tandatangan, adakah akan membabitkan anggota kumpulan saya yang lain dan saya tidak mahu berlaku kerugian. "Dia (Zua) tandatangan itu sebenarnya tiada kena mengena dengan saya. Kami bukan satu kumpulan. Itu hal dia dan saya dengan hal sendiri," katanya. Izo berkata, apa-apa yang berlaku adalah urusannya sendiri dan dia tidak mahu menjadi mangsa dipersalahkan dalam perkara ini.


"Siapa yang tandatangan dikira bersetuju dengan apa yang dinyatakan dalam surat itu. Secara automatik mereka sudah bebas. “XPDC sudah berpecah dan kontrak adalah atas nama individu, bukannya berkumpulan. Sepatutnya mereka sudah bebas dan boleh buat apa sahaja sekarang," katanya. Izo berkata, Zua perlu mengikut syarat-syarat ditetapkan iaitu nama dan logo XPDC adalah hak milik Life Records dan mereka perlu merujuk kepada syarikat rakaman itu. Harian Metro sebelum ini melaporkan nama dan logo XPDC sudah dipaten Life Records sejak 1 Julai 1998 dan ia adalah hak mutlak syarikat terbabit, bukannya anggota XPDC. Pengurus Promosi dan Pemasaran Life Records Sariah Idris dipetik sebagai berkata, pihaknya tidak menghalang anggota kumpulan itu menggunakan nama XPDC tetapi penganjur untuk persembahan mereka perlu menulis surat dan meminta kebenaran Life Records untuk menggunakan nama dan logo kumpulan itu




LOVE ME BUTCH | COME OUT COME OUT!

CREDIT VIDEO: TAPAUasia Biography Syarul Reza – Vocals Wing Meng – Guitars Kevin Kong – Bass Jana Nair – DrumsWith a debut album, Enter Post...